The Real Ramadan “Kado Terindah di Bulan Ramadan”

Pemateri :

Ustaz Rizal

  • Kepala TPA Terpadu Al-Ikhlas, Duta Indah, Jati Makmur
  • Pengurus Harian Majelis Dhuafa Cinta Al-Qur’an Masjid Duta Indah

Tepat 17 Ramadan Al’quran diturunkan sebagai rasa sayang Allah terhadap hambanya, kitab terakhir yang diturunkan kepada manusia terbaik untuk disampaikan kepada umat terakhirnya.

📖 Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

. عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Begitulah para ulama ketika bulan Ramadan, mereka melemparkan (melempar dalam tanda kutip) karya-karya mereka untuk berfokus kepada Al’quran. Muhammad bin Idris atau yang lebih dikenal Imam Asy Syafi’i Rahimahullah ulama terkemuka madzhab Syafi’i, muridnya mengatakan bisa mengharamkan 60 kali dalam sebulan.

Allah tidak menjadikan Ramadan ini dibungkus dengan sesuatu yang indah, ini sudah dipersiapkan ketika Allah menciptakan surga dan neraka.

📖 Hadits Sunan Abu Dawud No. 4119

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika selesai menciptakan surga, Allah berfirman kepada Jibril: “Pergi dan lihatlah surga itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah menutupi (merintangi) surga dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh manusia). Lantas Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah surga itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat surga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku kawatir tidak ada seorang pun yang hendak

memasukinya.” Beliau bersabda: “Ketika selesai menciptakan neraka, Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat neraka, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kemudian timbul keinginan untuk memasukinya.” Allah kemudian menutupi neraka dengan syahwat (kesenangan atau yang disukai manusia), lantas Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka.” kemudian Jibril pergi dan melihat neraka, setelah itu ia kembali lagi dan berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku kawatir tidak ada seorang pun yang bakal tersisa (selamat).”

 📖 Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

📖 Dari Anas bin Malik, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

📖 Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

📖 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

📖 Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

Keistimewaan Bulan Ramadan :

1. Pahala Tanpa Batas

Puasa itu separuh kesabaran

📖 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ  ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِى هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ  ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وٰسِعَةٌ  ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 10)

📖 Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

2. Mendapat Dua Kebaikan

📖 Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

3. Dibuka Pintu Surga, Ditutup Pintu Neraka, dan Dibelenggunya Setan

📖 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين” رواه البخاري ومسلم واللفظ له

“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” [Muttafaqun ‘alaihi]

4. Lailatul Qadar

Di 10 malam terakhir, memiliki keistimewaan karena Allah turunkan Al’quran , malam seribu bulan.

📖 Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3)

📖 Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)

📖 Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

5. Gelar Ketakwaan

Al Baqarah 183

Keutamaan orang-orang yang bertakwa:

1. Pujian dan Sanjungan Bagi Orang Bertakwa

2. Mendapatkan Penjagaan dan Perlindungan dari Musuh

3. Selalu Bersama Allah di manapun berada

4. Diselamatkan dari Kesulitan dan Diberikan Rezeki

5. Mendapatkan Pengampunan dari Dosa

6. Dicintai oleh Allah

7. Dimuliakan di sisi Allah

8. Diberikan Kabar Gembira Dunia & Akhirat

9. Selamat Dari Neraka

10. Mendapatkan Kehidupan Kekal dalam Surga

📚 Sesi Pertanyaan 📚

👤 Afif (Bekasi)

Saat bulan Ramadhan ini kan kita dihadapi pandemi covid 19 ini, sehingga mesjid-mesjid di tutup, sedangkan di lingkungan saya blum ada yang terkena, shalat Jumat tidak diperbolehkan, namun seorang laki2 jika tidak shalat Jum’at 3 kali, dikatakan kafir, sedangkan di masjid saya yang hanya boleh melakukannya hanya pengurus 8 orang, sedangkan syarat shalat Jumat 40 orang, bagaimana tanggapan ustadz dalam hal tersebut?

📝 Jawaban

Dalam kondisi pandemi ini memang mengikuti fatwa MUI sudah paling tepat, dalam hadits yang disebutkan ada redaksi ‘jika dengan dengan sengaja meninggalkan sholat jumat’ jadi kita meninggal kan sholat jumat bukan karena sengaja tetapi karena suatu hal yang menyebbkan kita terhalan untuk sholat jumat. Ulama berbeda pendapat tentang bilangan sholat jumat, tapi perbedaan itu sifatnya kondisional , tetap sah sholat 8 orang selama ada imam dan ada makmum atau kurang dari 40 orang.

Menurut madzhab Hanafiyah, jika telah hadir satu jama’ah selain imam, maka sudah terhitung sebagai jama’ah shalat Jum’at. Karena demikianlah minimalnya jamak. Dalil dari pendapat Hanafiyah adalah seruan jama’ dalam ayat,

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَذَرُ‌وا الْبَيْعَ

“Maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” (QS. Al Jumu’ah: 9). Seruan dalam ayat ini dengan panggilan jamak. Dan minimal jamak adalah dua orang. Ada pula ulama Hanafiyah yang menyatakan tiga orang selain imam.

Ulama Malikiyyah menyaratkan yang menghadiri Jum’at minimal 12 orang dari orang-orang yang diharuskan menghadirinya. Mereka berdalil dengan hadits Jabir,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang.” (HR. Muslim no. 863)

Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang dari yang diwajibkan menghadiri Jum’at. Penulis Al Mughni (2: 171) berkata, “Syarat 40 orang dalam jama’ah Jum’at adalah syarat yang telah masyhur dalam madzhab Hambali. Syarat ini adalah syarat yang diwajibkan mesti ada dan syarat sahnya Jum’at. … Empat puluh orang ini harus ada ketika dua khutbah Jum’at.”

Dalil yang menyatakan harus 40 jama’ah disimpulkan dari perkataan Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.

“As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat puluh.” (HR. Abu Daud no. 1069 dan Ibnu Majah no. 1082. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

Intinya 2 orang pun dia sudah memenuhi kewajiban

👤 Moderator

 Masya Allah, ijin ada tambahan Pak Ustadz

Permasalahan yang ditanyakan adalah ketika adanya sholat jumat yang diadakan oleh 8 orang jadi mengundang bertambahnya jamaah yang ingin ikut serta, sampai penuh.

Menimbulkan sedikit gesekan, bagaimana sikap seharusnya Ustadz?

Apa pengurus juga melakukan kelalaian?

📝 Jawaban

Catatan yah perbedaan ini masalh cabang aja, jadi kita tidak perlu memaksakan pemahaman kita kepada orang lain. Yah salah kalo akhirnya ngundang orang jadi banyak pasti ditertibkan, karena sudah ada peraturan tentang hal tersebut. Maaf maksudnya menghidari atau menhilangkan mudhorat atau kerusakan harus lebih didahulukan dari pengambilan manfaat yang sedikit.

👤Ukhti Jamiatul

Jika di bulan ramadhan setan di belenggu,lalu mengapa masih ada yg melakukan perbuatan yg dilarang,bukankah itu bisikan setan?

📝 Jawaban:

Ada dua penafsiaran, benar dibelenggu dan hanya kiasan, ada yang menafsirkan jika dibelenggu secara nyata katakan, dibelenggu hanya leher dan tangan kakinya dirantai , tapi mulutnya masih bisa untuk membisikkan manusia, atau kiasan karena bulan ramadhan semua orang beribadah beramal setiap waktu, kesempatan syaitan untuk menggoda jadi terbatas sehingga seperti dibelenggu.

Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu. (Fatwa  Syabakah Islamiyah, no. 40990).

Syaitan itukan ada dua:

syaitan dan golongan jin dan syaitan dari golongan manusia, sebagaimana disurat annas

minal jinnati wannas, tidak semua gangguan dari syaitan bisa jga dalam diri kita

Syaitan itu sifat. Sedangan yang menggangu manusia dan jin iblis

Sehingga maksiat iblis murni dari dirinya

👤  Ukhti Karel

Assalamualaikum ustadz

Saya ingin bertanya .

Kita di Indonesia dominan mengikuti Aturan oleh Imam Madhzab Syafi’i .

Nah ketika dalam keadaan yang mendesak atau udzur lainnya apakah kita bisa mengikuti aturan madhzab lain? Kemudian Bagaimana jika orang awam tidak menau tentang aturan 4 imam madhzab kita? Bagaimana cara kita menjelaskan bahwa mereka harus mengikuti salah satu dari madhzab tersebut?

📝 Jawaban:

Istilahnya TAlfiq (mencampurkan mahdzab)

Talfiq ada yang dilarang secara mutlak juga ada yang diperbolehkan, yang tidak diperbolehkan yang hanya mengambil keringanan dalam agama sesuai hawa nafsunya bukan karena darurat

Dalam kitabnya, Raudhoh Al-Nadzir wa Junnah Al-Munadzir, di bab Taqlid, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620H) menyebutkan Ijma’ (Konsensus) para sahabat bahwa seorang awam wajib taqlid (mengikuti) mujtahid atau madzhab. Sama sekali tidak diwajibkan seorang awam untuk mengetahui dalil, cukup bagi seorang awam untuk mengetahui hukum suatu masalah, dan menjalankan ibadah sesuai hukum yang ia ketahui walau tidak tahu dalil. Dan cukup baginya fatwa ulama yang ia ikuti, atau guru yang ia belajar kepadanya.

Sedangkan seorang mujtahid, yang memang mampu menganalisa serta menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan hadits, ia diharamkan mengikuti sipapun itu. Yang dia harus lakukan adalahberijtihad; karena memang ia adalah ahli dalam hal itu. Nah, tinggal di lihat dengan penuh kesadaran diri, kita masuk dalam kategori yang mana; awam kan atau mujtahid kan kita? Apakah bisa kita memahami teks-teks syariah yang ada tanpa melirik sedikitpun kepada pemaparan dan penjelasan ulama terdahulu? Seberapa baik kemampuan bahasa arab kita? Seberapa paham kita tentang maqasihd syariah? Kalau jauh dari itu semua, maka segera sadari, kita adalah awam yang hanya bisa mengikuti ulama madzhab agar selamat dalam beragama dan tidak keliru memahami al-Qur’an serta hadits Nabi s.a.w. yang suci. Karena memang pada dasarnya, mengikuti ulama-ulama madzhab tersebut itu sama juga mengikuti al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, karena memang mereka tidak mendatangkan hukum-hukum ysriah dari otak dan nafsu mereka, akan tetapi itu semua dari al-Qur’an dan hadist

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Jika kita ikut mazhab seperti kita beli nasi padang di warung padang, pilihannya rendang yang udah tinggal dimakan apa bikin sendiri. Kita ga perlu repot repot lagi analisis dalil dalil lagipula kita tidak memiliki kemampuan tersebut, jika darurat boleh jika tidak sebaiknya ikuti madzab yang kita selama ini pegang.

👤 Moderator

Ini ada 2 pertanyaan yang ijin saya gabungkan, dari ukhti-ukhti kita yang ada di grup ini.

Afwan ustadz Bagaimana solusinya untuk orang awam yg menginginkan sholat tarawih cuma karena ada pandemik ini jadi tidak melakukan kegiatan sholat tarawih, dan apa boleh sholat tarawih jam 4 subuh? Mohon dijawab batas waktu pelaksanaan sholat tarawih itu sendiri.

📝 Jawaban

Pada asal hukumnya sholat tarawih dirumah masing-masing, kalo jam 2 malam bisa disebut shalat tahajud, tapi jika kita tidur danbangun jam 4 kerjakan saja sholat dengan niatan tarawih, perintahnya adalah kita diperintah untuk qiyamullail (menghidupkan malam)

Nabi memberikan keleluasaan bagi umatnya, bagi mereka yang tidak bisa bangun sepertiga malam bisa ditunaikan bada isya, karena mungkin takut besoknya sahur, lalu siang harus kerja malah banyak mengantuk.

Namun bagi mereka yang terbiasa bangun seperti malam silahkan saja tunaikan tarawih di malam itu. Ini adalah kemudahan bagi kita, bisa salat tarawih di awal waktu atau menjelang sahur. Silahkan saja

Batasannya sebelum subuh berkumandang

👤 Moderator

Tips supaya i’tikaf atau memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan walaupun dirumah tapi tetap lancar dan berjalan dengan baik?

📝Jawaban

Tips memaksimalkan ramadhan:

1. Matikan TV (nyalain ketika menjelang buka ajah) 

2. Batasi Medsos yang tidak penting    

3. Buat rencana atau target ibadah dissisa sisa ramadhan ini. 

4. Yakinkan diri ini adalah ramadhan terakhir kita

Bekerjalah kamu seakan akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan akan kamu mati besok.

✉️ Pesan

Jadikan pandemi ini bukan penghalan menjadikan kita beribadah ramadhn, tingkat terus ibadah disisa sisa ramadhan ini. Semangat Allahu akbar wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp Us :)