Peranan Pemuda dalam Anggota Dewan Daerah Bekasi

Sesuai dengan Tema yang diambil… Peran Pemuda dalam Parlemen. Tapi yang menjadi pertanyaan saya…yang mendasar… sebenarnya, berapa usia yang dikatakan pemuda? Tapi umur hanyalah hitungan angka. Yang paling utama adalah gagasan kita. Tidak peduli umur kita, masuk katagori tua atau muda… Tapi seberapa besar gagasan yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan. Saya saat ini berumur 42 tahun, Di DPRD bekasi bukan sebagai yang paling muda. Yang termuda usianya 33 tahun. Kalau di daerah lain, ada yang usianya 25 tahun… Kalau sudah ada pertanyaan sampaikan saja yh via admin.

Saya mau nge-dongeng dulu…mudah²an gak bosen denger dongeng saya. Disini ada yang berita² jadi politikus (Anggota Dewan). Kalau ada…lebih baik kubur cita² itu sedari dini. Kenapa saya bilang dikubur…karena menjadi anggota dewan harusnya bukan menjadi cita². Menjadi Anggota dewan adalah sebuah pengorbanan… Bukan mencari kenikmatan dari sebuah jabatan, Disana ada amanah…yg harus dipertanggung jawabkan. Maka menjadi anggota dewan adalah ‘pelayanan’, Konsep inilah yang utama menjadi dasar kita. Sisanya…biarlah takdir yang akan berbicara. Apakah kita layak atau tidak untuk diberikan amanah tersebut. Jujur, di awal saya menolak untuk dicalonkan sebagai Bakal Calon Anggota Dewan. Saya punya background Seni Rupa…tidak tertarik dengan dunia politik sedikitpun. Ketika PKS mwncalonkan…saya katakan tidak kepada Ketua DPD PKS saat itu. Saya lebih suka dengan aktifitas saat itu, sebagai founder sekolah dhuafa yg saya kelola…dan juga pekerjaan saya sebagai seorang konsultan kreatif disebuah perusahaan IT. Jadi, nama saya…ternyata didaftarkan juga… walaupun sdh saya tolak, Dan ketika terdaftar, saya terikat dengan peraturan KPU yang tidak bisa mundur. Jadilah saya berkampanye…dengan yang saya mampu. Kampanye kreatif… pendekatannya lebih kepada emosi…dan media social. Saat itu…saya hanya memiliki dana yang sedikit… Ada yang bisa menebaknya…

Singkat cerita…saya ternyata terpilih dari 50 orang anggota DPRD kota Bekasi. Ceritanya… penuh drama…kalau saya ceritakan disini…bisa seperti sinetron.. Berseri² . Tapi ada satu yang mengganjal… Kalau saya nanti jadi dewan…apa saya gak akan mengulang kejadian yang sama…😔. Maksudnya… seperti dewan yang sudah-sudah… terpilih, lalu hilang ditelan bumi. Muncul lagi kepermukaan setelah 5 tahun. Disinilah idealisme kita bentuk dari awal, Saya… berkomitmen, untuk tidak mengulangi kesalahan dewan² sebelumnya. Makanya…saya tidak pernah pelit untuk memberikan nomor kontak saya. Any time…

Sampai suatu ketika…saya ingat betul. Malam setelah pelantikan…saya jalan berdua bersama istri…untuk sebuah keperluan. Ditengah perjalanan saya di telpon seseorang… Bang dewan…ada yang butuh bantuan Abang…terkait pasien disalah satu rumah sakit. Saya minta izin ke istri…untuk membelokan arah tujuan. Menuju rumah sakit yg dituju di daerah bekasi barat. Kebetulan saya di jatiasih…berlawanan arahnya. Sampai disana…saya advokasi pasien tersebut…mereka terkendala dalam biaya 😔. Kalau orang melihat penampilan saya…orang pasti tidak akan menyangka kalau saya dewan. Di awal, saya memang sengaja utk tidak merubah penampilan…dengan berpakain necis, berjas dan berdasi seperti anggota dewan kebanyakannya. Saya memilih penampilan casual, Seperti orang kebanyakan… Dan saya kemana² lebih suka memakai motor tua kesayangan saya, Saya kasih nama Si Jampang. Makanya…saya dikenal sebagai Bang Jampang. Dari sini saya mulai belajar…bahwa ternyata jadi dewan itu telunjuknya ‘sakti’. Tapi kesaktiannya…itu yang bisa membawa kemaslahatan…atau bisa membawa bencana 😔. Jadi maslahat…kalau kita pergunakan untuk kebaikan…menolong orang yang memang butuh bantuan kita. Jadi mudhorot…kalau kita pergunakan sewenang² untuk kepentingan pribadi kita. Nah…disini kita letakan idialisme kita. Telunjuk dewan bisa jadi uang. Setiap dewan datang kepada dinas…dia bisa meminta Amplop 😊. Jumlahnya bisa jutaan. Tapi kami di PKS sdh dari awal berkomitmen. Untuk menolak segala amplop yg ada, Yang bukan menjadi hak kami.

Pertanyaan

1. Bang izin bertanya, misalkan dalam undang-undang yang disahkan oleh DPR dan pemerintah, ada blunder disitu, seperti UU PK-S dan KPK,  bagaimana kita Pemuda menyikapi, apakah dengan demo atau ada yg lain yg bisa kita lakukan, atau apakah kita hanya perlu menyerahkan hal-hal seperti itu ke ahli nya ?

Jawaban
Terkait masalah Undang²…entah itu dengan teman UU PK-S dan KPK yang dulu sempat heboh. Demo bisa menjadi salah satu cara agar suara kita di dengar… ini sah menurut UU, selama dalam demo sesuai prosedur yang berlaku… pelajari konten dari demo kita, dan pastikan… demo kita bersih dari agenda titipan atau sisipan yg lain. Atau malah demo kita ditunggangi oleh pihak yg tidak bertanggung jawab. Saya termasuk anggkatan reformasi waktu tahun 98 lalu. Ketika masih kuliah di ITB, suka ikutan demo 😁. Atau ada satu cara lain, kita pemuda membuat diskusi² publik..membedah isu permasalahan yg ada…dengan intelektualitas yang kita miliki. Cara ini sangat elegan…dan kita sangat bisa menambah wawasan.

2.  Knapa cita-cita menjadi anggota parlemen harus dikubur sedini mungkin ? Bukannya itu cita-cita yang bagus ya bang ?

Jawaban

Kenapa saya bilang menjadi anggota parlemen harus dikubur cita²ny. Karena harusnya itu bukan cita²…. Terlalu rendah kalau kita menaruh cita² kita  sebagai anggota parlemen. Anggota parlemen bukanlah profesi…😔 Tidak akan ditemukan kolomnya di kolom profesi kalau kita membuat SIM 😅🤭  Cita² kita adalah menjadi sebaik²nya manusia. Yang bermanfaat bagi orang lain. Nah…amanah di parlemen, biarlah takdir yang nenentukan jalannya.. Tapi niat kita…sudah kita bentuk dari awal, Kalau ini kita lakukan…kita akan punya idealisme yang kuat. Karena godaan untuk tergelincir itu sangat besar disana

3. Assalamuallaikum , sya mau bertannya. Bang latu ini kan bekerja di komisi iv jika tidak salah komisi iv itu berkaitan dengan kesehatan sosial , Yg saya liat skarang ini akses untuk mendapatkan kesehatan sungguh rumit sekali birokrasinya , terutama untuk mereka (masyarakan kecil) yg menggunakan kartu jaminan sosial atau bpjs , sebagai orang yg berkecimpung di komisi iv ini bagaimana abang menyikapi persoalan ini ? Ditambah lagi dengan adanya pandemi covid 19 yg sedang terjadi di Indonesia?

Jawaban

Terkait masalah kesehatan dan kondisi covid 19 ini, Ini ujian yang luar biasa. Anggaran kita di 2019 kemarin APBDnya devisit sekitar 200 M lebih. Salah satunya sumbangsih terbesar dari Kesehatan. Biayanya sangat tinggi dengan adanya karru sehat. Kartu Sehat Bekasi (KS) sangat sakti…sebelum di tahun 2020 ini layanannya dihentikan. Yang menghentikan karena adanya Permendagri no.33 tahun 2019. Yang menyatakan bahwa seluruh layanan kesehatan daerah (Jamkesda) harus terintegrasi dengan BPJS. Jadi kota bekasi tidak lagi bisa mengupayakan kebijakan Kartu Sehat. Di tahun 2021 nantinya…seluruh jaminan kesehatan harus dengan BPJS. Ini ada untung dan ruginya. Bagi warga yang tidak mampu, mereka pembiayaan akan dicover oleh Pemda…dengan fasilitas kelas III. Gratis. Nah… pertanyaannya, kenapa harus tahun 2021. Kenapa tidak 2020. Disinilah politik. Tarik menariknya sangat kuat. DPRD hanya mampu untuk membuat kebijakan Anggaran. Tapi kebijakan eksekusi anggaran itu ada pada eksekutif…dalam hal ini pemda. Makanya Pemda Kota bekasi…membuat masa transisi selama 1 tahun. Dengan membuat layanan LKM – NIK. Layanan Kesehatan Masyarakat bebasis NIK. Manfaatnya hampir sama dengan KS. Tapi prosesnya panjang dan berliku.

Saya jabarkan. Pertama, mereka yang tidak memiliki BPJS baik itu yg mandiri ataupun BPJS (KIS) yang dibayarkan iurannya oleh pemerintah…mereka bisa mempergunakan LKM NIK. Cukup dengan KTP dan KK ketika ke rumah sakit…baik itu swasta ataupun RSUD. Sampaikan saya mau berobat memakai LKM NIK. Nanti prosesnya dikasih waktu 3 hari. Untuk mengurus administrasi. Dari membuat SKTM…minta surat keterangan dari RT/RW nanti dibawa ke Dinsos untuk mendapatkan SKTM. Setelah dapat…nanti kita ke dinas kesehatan…untuk mendapatkan SJP. Apa itu SJP? SJP adalah Surat Jaminan Pembayaran…dengan dipegangnya surat ini…seluruh pembiayaan rumah sakit kita gratis. Dan saya di komisi 4 adh bersuara keras…agar pemerintah memangkas jalur birokrasi ini. Nah terkait dengan Covid19 ini…jadi masalah baru. Kami di DPRD sdh meminta pemkot utk menggangarkan dana penanganan Covid19. Jumlahnya 150M. Ini masih terbilang kecil, Tapi kwsanggupan kita saat ini masih diangka itu. Yang jadi persoalan…ketika Pemerintah mengatakan bahwa BPJS tidak mengcover biaya pengobatan mereka yang terkena covid19 😭. Kan ambyaaar.

Kami di komsi 4 sebelum covid19 ini kondisinya semakin parah… memanggil dinas kesehatan, dirut BPJS Kota Bekasi dan Dirut RSUD. Saya menyampaikan…kalau BPJS tidak menanggung biayanya… dititik mana pemda akan menanggung biaya mereka yg terpapar covid19. Intinya…pemda akan mengcover semua pembiayaan masalah covid19 ini. Dimulai ketika pasien ditetapkan sebagai ODP, PDP…ataupun suspect. Ketika pembiayaan dari BPJS terputus…karena tidak mengcover…maka Jamkesda akan mengambil alih. Itu…rencana idelanya. Kenyataan dilapangan? Ini kenyataannya.

JERIT KELUARGA PDP 😔

Pagi sekitar jam 10an gw di telp dari sebuah nomor yang gw gak kenal…sebab nomornya tidak tertera didalam kontak HP gw.

Bang dewan…maaf mengganggu, saya boleh minta tolong gak, anak saya kemarin masuk IGD salah satu RS Swasta…ternyata pagi tadi ditetapkan sebagai Pasien PDP, nah kami melakukan pendaftaran melalui BPJS KIS…tapi pihak rumah sakit akhirnya memintakan pembayaran, karena mereka beralasan BPJS tidak meng-cover pembiayaan covid-19.

Akhirnya, gw minta disambungkan kepada pihak rumah sakitnya dan meminta penjelasan terkait hal ini. Bagian keuangan bersikeras bahwa kalau BPJS tidak meng-cover maka pasien harus membayar secara mandiri. Gw jelaskan bahwa memang benar BPJS tidak mengcover pasien yang terindikasi, mukai dari ODP, PDP sampai Suspect, tapi setelah pihak rumah sakit memberikan status terhadap pasien…maka seluruh pembiayaannya secara otomatis akan dicover oleh pemerintah daerah/pusat.

Penjelasan gw melalui sambungan telp tampaknya tidak terlalu dianggap oleh pihak rumah sakit, dan akhirnya pasien tetap membayar dengan pembiayaan mandiri, karena kondisi serba mendesak dan dalam kebingungan akhirnya mereka menyanggupi membayar dengan dana yang diupayakan dari bantuan yg lain.

Mendengar hal itu, gw bergegas memacu si-Jampang ke rumah sakit yang dimaksud untuk melakukan advokasi. Sesampai disana gw langsung menuju bagian keuangan untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan kenapa keputusannya seperti itu… setelah mendapatkan penjelasan yg tidak memuaskan, gw minta dipertemukan kepada pihak manajemen, karena merekalah yang bisa memberikan perubahan kebijakan…pararel gw mengkontak dinas kesehatan untuk mendapatkan akses bantuan langsung terkait pasien ini dan juga Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Bang Sardi Efendi untuk mendapatkan arahannya.

Setelah bertemu dengan pihak manajemen gw jelaskan maksud dan tujuan gw kesana…dan memberikan gambaran panjang lebar terkait SOP pembiayaan pasien yang terindikasi covid-19 dari segi pembiayaan. Bahwa tidak boleh pihak rumah sakit secara sepihak membebankan biaya secara mandiri kepada pasien yang berobat dengan BPJS, setelah status ditetapkan oleh rumah sakit, apakah pasien itu ODP ataupun PDP, maka seluruh pembiayaannya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, karen Pemkot Bekasi telah menganggarkan dana 150 M untuk penanganan Covid-19 ini.

Rumah sakit hanya perlu untuk men-swicth pembiayaannya kepada LKM Nik, berdasarkan KTP pasien kalau memang dia adalah warga Kota Bekasi…pasien hanya perlu melengkapi berkasnya tanpa perlu membuat SKTM ke Dinas Sosial, langsung dihandle oleh Dinas Kesehatan dengan mengeluarkan SJP (Surat Jaminan Pembayaran).

Alhamdulillah, setelah gw memberikan penjelasan dan penekanan, pasien PDP tersebut biayanya di cover oleh Jamkesda dan uang yang sudah dibayarkan pasien dikembalikan sepenuhnya.

Kita saat ini berada dikondisi yang serba sulit karena wabah covid-19 ini…jangan lagi mereka yang terkena musibah penyakit dibebankan dengan biaya yang tidak sedikit. Pemerintah Pusat dan daerah juga harus bisa maksimal memberikan bantuan kepada rumah sakit baik negeri maupun swasta…agar penanganan pasien yang terindikasi covid-19 ini bisa berjalan dengan baik.

Dukungan ketersediaan APD, obat serta ruangan untuk isolasi menjadi hal yang utama…dan kita, sebagai warga harus senantiasa mematuhi himbauan pemerintah baik pusat atau daerah agar tetap #dirumahsaja untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini.

Jangan anggap remeh kondisi ini, tetap jaga kesehatan kita…karena penyesalan selalu datang belakangan.

Note:

berikut ini perbedaan antara ODP, PDP, dan suspect virus corona.

• ODP

ODP adalah singkatan dari orang dalam pemantauan. Seseorang dikatakan masuk dalam kategori ODP apabila ia sempat bepergian ke negara lain yang merupakan pusat penyebaran virus corona. Anda juga akan masuk sebagai

ODP apabila pernah berkontak langsung dengan pasien yang positif corona. Orang yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang belum menunjukkan gejala sakit.

• PDP

PDP adalah singkatan dari pasien dalam pengawasan. Artinya, orang yang masuk ke dalam kategori ini sudah dirawat oleh tenaga kesehatan (menjadi pasien) dan menunjukkan gejala sakit seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas.

• Suspect

Sementara itu, suspect corona adalah orang yang diduga kuat terjangkit infeksi COVID-19, dengan menunjukkan gejala virus corona dan pernah melakukan kontak dekat dengan pasien positif corona. Pasien yang masuk dalam kategori ini akan diperiksa menggunakan dua metode, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Genome Sequencing. Pemeriksaan ini akan dilakukan untuk melihat status infeksi corona di tubuh suspect tersebut: positif atau negatif.

4. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sblmny perkenalkan saya Mecco Domisili Jambi, asal Lahat, Sumsel.

 Izin tny bg, bagaimana tanggapan abg terkait banyaknya oknum yg masih memainkan politik uang pada saat pemilu? Dan adanya partai2 politik yg merekrut mahasiswa melalui organisasi kampus maupun komunitas2, serta bagaimana cara atau tips untuk menjaga idealisme seorang pemuda? Terima kasih sebelumny 😅

Jawaban

Ada yang dari luar kota juga yah…luar biasa 🙏 Salam takzim saya. Terkait politik uang dalam pemilu. Ini menjadi hal yang akhirnya dianggap lumrah dalam pesta demorasi kita 😔. Makanya yang terpilih adalah mereka² yang nantinya berpikir…bagaimana uang yang saya keluarkan bisa balik modal. Rata² untuk menjadi anggota DPRD seseorang mengeluarkan dana yg tidak sedikit. Untuk bisa jadi…saya sering berdiskusi dengan mereka yg terpilih.. Mengeluarkan dana yg fantastis. Minimal 2 milyar. Seumur²…saya belum pwrnah megang duit 2 M 😅 Apakah kita menyakahkan mereka…eit, jangan dulu. Lihatlah ke masyarakat. Twrnyata masyakarat kita memang pragmatis cara berpikirnya. Mereka yg memberikan uang adalah mereka yg gw pilih…sesimpel itu. Tidak peduli mereka akan gagasan yg dibawa oleh calon anggota dewan. Makanya…kualitas kepemimpinan di indonesia sangat buruk. Sorry to say. Dan memang, setiap parpol biasanya memiliki underbow dari kalangan mahasiswa.

Bagaimana mejaga idealisme. Yang pertama idealisme akan teruji ketika kita diberikan jabatan. Kalau belum menjabat mah…teriak apapun seidialis²nya bebas. Tapi coba kalau jabatan itu sdh di genggaman. Mulut kita kadang kelu… terkunci untuk bisa bersuara lantang. Menjaga idealisme harus dimulai dari komitmen. Komitmen utk tidak menikmati jabatan. Itu awalnya. Karena…kalau sdh nikmat…kita berat untuk melepaskannya. Idealisme pemuda itu dibentuk dari keyakinan. Seberapa yakinnya dia. Kalau dia yakin…pasti idealisme nya melekat. Yakin dan dekat dengan yang maha kuasa.

5. Izin bertanya kak,saya gita fatma dari UNISMA Bekasi, sejak pandemi ini, saya menjadi tulangpunggung keluarga,orangtua saya tidak bekerja karna korban dirumahkan ,dan orangtua memang pernah dijanjikan sama salahsatu  anggota dewan akan dibantu dalam dana tapi sudah 2pekan tak ada kabar dan berkas sudah masuk,  jadinya saya putar otak kembali gimana saya bisa dapatkan uang,akhirnya saya buka wirausaha datesmilk/susukurma dengan modal dari tabungan hasil ojek online saya selama kuliah, nah,mohon pencerahan nya gimana kita sebagai muda tetap menjadi inspirator keluarga? Dan tetap bisa tahanbanting dengan keadaan seperti ini?dengan keuntungan untuk biaya hidup sehari2 itupun jika,produk saya laku terjual setiap harinya 🙏🏻

Jawaban

Untuk jawabam nomor 5 izinkan saya ikut merasakan beban teman² yang semuanya terdampak covid 19 ini 😭🙏🙏. Kami di PKS punya komitmen… Seluruh gaji anggota Dewan Fraksi PKS, baik itu yang Pusat, Provinsi maupun kota /kabupaten…selama masa kita berperang melawan covid19 ini…kami merelakan gaji kami. Salam respect saya buat semua pemuda yang menjadi tulang punggung keluarganya. Apalagi kita tengah melewati badai yang sangat berat. Pemerintah memang menjanjikan bantuan. Dana kompensasi…terkait merek yang terdampak secara ekonomi. Cuma dilapangan…realisasinya sangat sulit…banyak pendataan yang tidak benar…asal saja. Akhirnya banyak yg seharusnya mereka layak mendapatkan…tapi tidak mwndapatkan karena pendataan yang tidak baik. Saya pernah berdiskusi dan melontarkan ide pemikiran. Sebwnarnya solusinya bisa diupayakan dari lingkaran terkecil masyarakat kita. Yaitu dari RT/RW. Ide saya membuat keluarga Asuh. Dua keluarga mampu atau lebih…mengasuh 1 keluarga yang tidak mampu di lingkungannya. Kalau satu RT atau 40 atau 50 KK. Yang tidak mampu ada 10 KK…maka 40 kk yang mampu…berbagi sama rasa… dengan 10 KK yang tidak mampu. Ini konsep islam. Ada dalam bab ukhuwah. Saya yakin…kita bisa kok. Masyarakat kita punya semangat gotong royong. Saling asah dan asuh. Kalau tiap RW melakukan hal ini…ditambah dengan prohram pemerintah dan bantuan dari CSR atau lwmbaga kemanusiaan lainnya… Saya yakin 100%…kita mampu melewati badai ini dengan tersenyum. Ini ada dalam bab kreatifitas. Kita dituntut utk bisa kteatif utk bisa melewati badai… Satu yang harus kita tanamkan. Keyakinan.. Karena semua dimulai dengan keyakinan kita yg kuat. Bahwa Allah…tidak tidur 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp Us :)