Meraih CintaNya dalam Dekapan Ramadan

Ustaz Akmal Sjafril
โ€ข Founder ITJ (Indonesia Tanpa JIL)
โ€ข Pengurus Sekolah Pemikiran Islam (SPI)

Ramadan adalah momen spesial untuk setiap Muslim, karena di bulan ini kita mendapat kehormatan untuk melaksanakan shaum sebulan penuh. Ini adalah bagian dari Rukun Islam, yang artinya, penerimaan (atau pengingkaran) terhadapnya adalah batas di antara keimanan dan kekufuran.

๐Ÿ“– Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Bagian awal ayat ini adalah seruan terhadap orang-orang beriman. Artinya, ini memang ibadah yang hanya dikhususkan bagi mereka yang beriman, atau bisa juga dikatakan bahwa ia adalah ujian bagi keimanan. Mereka yang tidak beriman tentu akan berat melakukannya.

Jika lapar dan haus dianggap berat, maka sesungguhnya ada yang jauh lebih berat daripada itu. Sebab, sejak awal shaum memang bukan hanya menahan lapar dan haus, atau juga berhubungan suami-istri. Ketiga hal tersebut adalah hal-hal yang membatalkannya, bukan mendefinisikannya. Para ulama sejak dahulu telah menjelaskan bahwa hakikat shaum adalah imsak, yaitu menahan. Yang ditahan bukanlah sekedar ketiga hal tadi, karena
๐Ÿ“– Rasulullah ๏ทบ telah bersabda:
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, maka tidaklah Allah Azza wa Jalla butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, Rasulullah ๏ทบ juga bersabda:
Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali shaum, sebab ia hanyalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung. (HR. Bukhari)
Sebagian ulama menafsirkan maksud dari hadits ini sebagai penegasan bahwa shaum adalah ibadah yang hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ semata. Sebagian lainnya juga memberi penjelasan bahwa, karena ia hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ saja, maka ibadah ini tidak bisa dimasuki oleh riyaโ€™. Anda bisa saja berlagak khusyuโ€™ saat shalat, tapi tak bisa menyombongkan diri dengan shaum. Kalau Anda berlagak kuat, misalnya, orang bisa saja mengira bahwa Anda diam-diam telah makan dan minum saat sedang sendiri. Sebaliknya, kalau berlagak seperti sedang lemah, maka tidak ada juga yang bisa Anda banggakan dari keadaan yang demikian.

Mereka yang tidak beriman tidak akan sanggup melaksanakan shaum, sebab shaum menuntut pengendalian diri secara total. Menurut Prof. M. Naquib al-Attas, iman sangat erat berkaitan dengan perasaan aman. Artinya, jika seseorang beriman kepada Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰,

maka itu artinya ia merasa aman bersama-Nya, dan juga sebaliknya, ia tidak akan merasa aman jika telah menyelisihi kehendak-Nya. Hanya dengan cara itulah manusia bisa mengendalikan dirinya secara total.

Sekarang, kita saksikan betapa banyak yang โ€˜gelisahโ€™ meski mengaku telah beriman. Tahun lalu, kita dikejutkan dengan aksi anak-anak muda muslim yang mengaku suka makan daging babi. Ada sekian banyak makanan halal yang baik dan lezat, mengapakah hatinya gusar hanya karena ingin menikmati daging yang telah diharamkan? Apakah tidak makan daging babi akan membuatnya kehilangan bagian dari kenikmatan dunia? Apakah kelezatan daging babi memang pantas untuk ditukar dengan keselamatan hidup di akhirat? Jika mindset seperti itu yang berlaku di kepala Anda, tentu Anda tak merasa perlu berpayah-payah shaum, berlapar-haus seharian, dan menjaga setiap perbuatan sampai detil-detil terkecilnya.

Shaum bahkan mengajari kita untuk mengabaikan hal-hal kecil yang tak berarti, meski hawa nafsu kita menganggapnya besar.
๐Ÿ“– Rasulullah ๏ทบ bersabda:
Shaum adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang shaum janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, โ€˜Aku sedang shaumโ€™. (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat amarah muncul, ia bisa mendominasi seluruh perasaan manusia. Padahal, ia tidaklah relevan dalam kehidupan kita. Tak ada yang mau terus-menerus marah, dan tak ada alasan untuk terus-menerus dalam keadaan itu; karena itu, mengapa harus memperpanjangnya? Apakah ada dendam yang akan dibawa mati? Baru ketemu Malaikat Maut saja, kita takkan ingat lagi kebencian kita pada orang-orang lain; kita hanya akan memikirkan nasib kita sendiri. Di Alam Kubur pun demikian, apalagi ketika dibangkitkan di hadapan Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰. Apa yang tidak relevan pada saat kita menghadap Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ pada hakikatnya tidaklah relevan bagi kita pula.

Dapatlah disimpulkan bahwa kunci sukses Ramadan terletak pada kemampuan kita untuk memfokuskan diri kita pada tujuan kita yang sesungguhnya dan mengabaikan hal-hal yang tidak relevan. Untuk mencapai hal pertama, setidaknya ada dua kesalahan yang harus kita hindari, namun sayangnya kerap terjadi, yaitu membatasi shaum pada tiga hal yang membatalkannya dan membatasi ibadah Ramadhan hanya pada shaum.

Kalau cuma tidak batal shaum, rasa-rasanya semua orang yang sudah dewasa pasti mampu, kecuali untuk sejumlah kasus khusus saja. Mereka yang sudah bertahun-tahun, bahkan belasan atau puluhan tahun melaksanakan shaum Ramadan, semestinya mengalihkan pandangannya kepada hal-hal lain dalam shaum yang lebih rumit dan sulit dijaga, misalnya kestabilan emosi, gerak lisan yang didahului akal, pandangan mata, dan sebagainya. Selain itu, saat melaksanakan shaum, maka ibadah-ibadah lain seperti salat, bersedekah, tilawah dan sebagainya pun dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, semuanya berhak mendapat perhatian lebih dari kita.

Selain shaum, setidaknya ada satu lagi ibadah spesial di Bulan Ramadan, yaitu Salat Tarawih, yang juga disebut sebagai Qiyamu Ramadan. Karena namanya Qiyamu Ramadan, maka jelaslah bahwa sebelum tanggal 1 Ramadan ia belum ada, dan saat memasuki 1 Syawal ia tak ada lagi. Kita harus menunggu setahun penuh hingga berjumpa kembali dengan ibadah ini. Jika shaum dilaksanakan siang hari, maka Tarawih dilaksanakan di malam hari. Karena posisinya yang seolah โ€˜saling melengkapiโ€™, tidaklah sepatutnya kita memandang Tarawih sebelah mata, meskipun ia tetaplah ibadah yang bernilai sunnah, bukan wajib.

Dalam rangka mengabaikan hal-hal yang tidak relevan, sesungguhnya sekarang โ€” dalam kondisi pandemi yang mengharuskan kita untuk terus di rumah โ€” adalah kondisi yang paling ideal, meskipun zona nyaman kita terganggu. Di Bulan Ramadan kali ini, kita tidak bisa pergi bukber, ngabuburit, berburu diskon lebaran dan mudik. Akan tetapi jika kita mau memandang persoalan dengan jujur, sebenarnya hal-hal itu bukanlah bagian dari ibadah Ramadan, bahkan sebaliknya, mereka telah mengalihkan perhatian kita dari ibadah yang sesungguhnya. Mungkin, situasi sekarang ini adalah cara Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ untuk mengajari kita hakikat Ramadan yang sebenarnya!

Memang benar, ada juga ibadah-ibadah yang nampaknya tidak bisa kita lakukan sekarang, seperti shalat berjamaah di masjid, iโ€™tikaf, bahkan Shalat โ€˜Id. Akan tetapi, kita terhalang darinya bukan karena kurangnya keinginan, melainkan karena keadaan. Karena itu, jika kita benar-benar menginginkannya, insya Allah. Malaikat telah mencatatnya sebagai amal yang sempurna. Sama seperti orang yang telah menabung bertahun-tahun untuk pergi berhaji, namun dengan sangat terpaksa uangnya digunakan untuk membiayai pengobatan anak atau orang tuanya. Kalau memang beriman kepada Allah ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰, janganlah gelisah! Kita tidak sedang berhadapan dengan orang yang zhalim, melainkan Dzat Yang Maha Adil.

Kiranya pembicaraan yang singkat ini dapatlah membantu kita memetakan apa-apa yang perlu kita benahi untuk memaksimalkan amal-amal kita di bulan penuh keberkahan ini.

๐Ÿ“š Sesi Pertanyaan ๐Ÿ“š

๐Ÿ‘ค Ajeng (Jogja)
Bagaimana cara memaksimalkan bulan ramadan dengan benturan atau waktu yang lebih dominan untuk mengurus kegiatan lain misal deadline kerjaan atau tugas?

๐Ÿ“ Jawaban
Kalau mencontoh generasi terdahulu, biasanya target pekerjaan diselesaikan bulan Sya’ban, sehingga Ramadan tak ada lagi target yang perlu dicapai. Kalaupun perniagaan masih jalan terus, sekadar untuk memenuhi kebutuhan umat saja. Misalnya kita punya warung, kalau warungnya ditutup sebulan penuh kan kasihan juga masyarakat. Tapi tidak perlu buka seharian banget karena kita juga punya target-target ibadah yang harus dikejar. Aa Gym setahu saya sudah lama memberi contoh bagaimana di Bulan Ramadan aktivitas dakwah justru beliau kurangi demi target-target amal pribadi.
Idealnya begitu.
Tapi seringkali kondisinya tidak ideal. Dalam hal itu, kita bisa melakukan yang terbaik. Mencari nafkah itu sendiri adalah sebuah amal shalih, karena itu mantapkanlah niat, bekerja sebaik mungkin, agar amal tersebut ‘sampai’ kepada Allah SWT dalam kondisi terbaik. Demikian juga mengerjakan tugas-tugas lainnya seperti tugas kuliah atau tugas rumah tangga. Pada saat yang bersamaan, kita cari celah-celah waktu yang bisa digunakan untuk target-target amalan pribadi. Ramadan memang saatnya kita ‘berperang’, bukan beristirahat.

๐Ÿ‘ค Diana Rosidah (Bekasi)
Bagaimana caranya agar kita selalu mendapatkan cintaNya bukan hanya di bulan Ramadan saja melainkan bulan lain-lain juga. Dan bagaimana caranya agar kita bisa istiqomah menjalankan ibadah-ibadah yang biasa sudah kita lakukan selama bulan Ramadan menjadi kebiasaan di bulan lainnya juga?

Pertama, pada dasarnya tidaklah realistis mengharapkan amal ibadah kita di bulan-bulan lain akan sama seperti Ramadan. Rasulullah saw sendiri mengistimewakan Ramadan dibanding
bulan-bulan lainnya, dan persiapannya sudah dilakukan sejak Rajab. Masuk bulan Syawal, sudah sewajarnya ‘tensi’ agak dikendurkan, karena memang tidak sama antara Ramadan dengan Syawal.

Kedua, menurut saya, justru target seperti demikian membuat kita tak kuat beribadah di Bulan Ramadan, karena merasa tensi yang tinggi ini harus dipertahankan sepanjang hidup. Dalam buku saya, Wujudkan Ramadhan Terbaikmu!, saya mengandaikan Ramadan sebagai musim Playoff dalam kompetisi olahraga. Dalam babak Playoff itu, kita mengeluarkan segenap energi kita dan semua strategi yang bisa kita gunakan untuk menang. Justru dengan meyakini bahwa babak ini takkan bertahan selamanya, maka kita akan kuat memaksimalkan upaya. Ramadhan cuma 29 atau 30 hari. Kalau mau habis-habisan, ya habis-habisanlah selama 29 atau 30 hari ini, terutama di 10 hari terakhirnya. Karena ada garis finishnya, maka kita sanggup. Kalau tak ada garis finish, siapa yang sanggup?

Ketiga, tentu saja, diharapkan ada kemajuan. Artinya, kondisi kita setelah Ramadan janganlah jatuh hingga level yg sama seperti sebelum Rajab. Jadi grafik antiklimaks itu wajar, tapi jangan kembali ke titik semula. Itu sudah kemajuan yang sangat bagus.

๐Ÿ‘ค Kwidianti (Bekasi)
Assalamualaikum ustadzโ€ฆ
Saya mau bertanya, melihat kondisi Ramadan di saat ini, banyak masjid-masjid yang ditutup dan tidak adanya salat berjamaah di masjid. Dan sesuai anjuran untuk beribadah di rumah. Lantas bagaimana bagi keluarga yg pemahaman agamanya yang minim. Kepala keluarga belum bisa jadii imam karena bacaannya yang belum fasih dll. Sementara kita menginginkan pahala yang lebih di bulan ramadan ini? Mohon saran dan solusinya ustadz. Sukron

๐Ÿ“ Jawaban
Sebenarnya inilah ‘cambuk’ yang dibutuhkan untuk masalah ini. Sekarang, kita tidak bisa ‘mengandalkan’ imam masjid lagi. Para ayah, kepala keluarga, suami, dan anak laki-laki harus membuktikan kemampuannya sebagai imam shalat. Kalau bacaannya kurang fasih, berarti ‘jam terbang’ tilawahnya harus ditambah. Dalam keadaan sulitlah para pahlawan muncul. Kalau situasi tenang-tenang saja, tidak terlalu kelihatan bedanya orang biasa dengan yang luar biasa.
Tapi kalau belum siap juga, ya apa boleh buat. Mungkin shalat sendiri-sendiri terpaksa dilakukan untuk shalat-shalat yang bacaannya tidak dikeraskan.

๐Ÿ‘ค Jamiatul Munawaroh (Magetan, Jawa Timur)
Di masa pandemi seperti sekarang ini kan kita dihimbau untuk beribadah di rumah seperti salat tarawih. Tetapi masih ada masyarakat yang melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid tetapi dengan menjaga jarak aman, apakah tidak apa-apa? Sedangkan dalam agama kita diminta untuk merapatkan dan meluruskan shaf sholat?

๐Ÿ“ Jawaban
Pelaksanaan seperti itu masih saya ragukan, lagipula itu baru ijtihad secara ‘sporadis’ saja, bukan hasil diskusi majelis ulama. Saya lebih cenderung pada pendapat yang menghindari sekaligus salat berjamaah di masjid. MUI sendiri tidak memberi fatwa untuk shaf renggang seperti itu, dan MUI adalah pemilik otoritas fatwa tertinggi di negeri ini.

๐Ÿ‘ค Wahyu (Tegal)

Di era pandemi covid-19 seperti banyak perihal pendapat dalam beribadah di masjid/mushola, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang. Dengan fenomena terbut, lantas tindakan apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi persoalan tersebut ? Agar tidak ada perselisihan antara sesama umat islam?

๐Ÿ“ Jawaban
Jangankan soal salat di saat pandemi, soal menyepakati 1 Ramadan dan 1 Syawal saja kita masih berbeda, padahal hal tersebut SAMA SEKALI TIDAK WAJAR terjadi di sebuah negara. Walaupun pendapat berbeda-beda, namun ketika sudah diketuk palu oleh majelis ulama yg memiliki otoritas, maka semestinya semua berlapang dada. Kalau tidak demikian, maka umat akan berlarut-larut tenggelam dalam perbedaan pendapat. Lagipula, kalau tidak mau bersepakat, buat apa membuat forum seperti MUI?

Inilah yg belum dipahami oleh banyak saudara kita. Banyak yg masih mengutamakan egonya sendiri ketimbang akal sehat dan persatuan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp Us :)