Menggapai Keberkahan Ramadan dengan Berbekal Ilmu

Elmo Juanara
• Master Student Shizouka University
• Divisi Kastrat PPI Jepang
• Ketua MITI Klaster Mahasiswa

Menggapai Keberkahan dalam bulan Ramadhan

📖 Dalam Qur’an surah Al Baqarah ayat 183

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yang berarti “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dari ayat tersebut, tujuan akhir dari ramadan yaitu menjadikan orang bertakwa, takwa ini derajat yang tinggi, ibarat dalam pendidikan, maka levelnya mungkin sudah professor, karena tantangan menjadi takwa ini berat, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya

Ada sebuah kaidah, dalam hal memenuhi perintah Allah kita diminta semampunya, tetapi dalammeninggalkan larangan kita diminta sekeras-kerasnya, mungkin ada hikmah di sini, bahwasanya manusia itu lemah, sehingga diminta beribadah sesuai kapasitasnya. Dan juga ada sebuah insight di sini, batasan larangan dari Allah ini rendah, makannya diminta menjauhi sekeras2nya, karena manusia mampu, adapun godaan setan itu sesungguhnya lemah dalam 📖 surah An Nisa ayat 46 dijelaskan bahwa tipu daya setan itu lemah  کَیۡدَ الشَّیۡطٰنِ کَانَ ضَعِیۡفً

(karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” jadi jika kita masih banyak tertipu oleh godaan syaithan, berarti kita lebih lemah lagi dari tipu daya tersebut, oleh karena itu kita senatiasa diminta berta’awudz untuk meminta perlindungan diri dari godaan syaithan.

Kemudian mencari keberkahan di bulan ramadan dengan tujuan utama yaitu menjadi pribadi yang bertakwa, ulasan mengenai keberkahan dari Ustaz Salim A Fillah patut kita simak baik-baik. Keberkahan yaitu Ziyadatul Khayr atau kebaikan yang bertambah-tambah baik di saat senang maupun disaat sulit, itulah mengapa saat orang menikah doanya yaitu “Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr” yang artinya: Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. Doanya kepada kedua mempelai agar kita berharap keberkahan Allah turun pada mereka dan agar Allah memberkahi selalu baik dalam keadaan senang maupun susah.

Ada sebuah kisah yang saya kutip dari buku barakallahulaka ust Salim A Fillah dan saya tulis ulang di blog saya tentang Menakar Sudut Pandang Kita akan kesusahan hidup orang lain padahal dibalik adanya keberkahan yang kita tidak bisa melihatnya dalam sudut pandang keberkahan tersebut kita perlu memilih mau melihat dalam hal baik (walaupun kondisi susah) apa sebaliknya. Dalam sebuah serial anime Naruto, salah satu  pemeran tokoh Akatsuki, Deidara, pernah mengatakan “hidup itu adalah seni meledakkan”, sebagian besar orang juga sering mengatakan bahwa “hidup itu adalah seni memilih”. Setiap orang tentu berhak untuk berpendapat terkait kehidupan ini. Semua terserah kepada siapa yang mengatakan, apa yang dikatakan, dan kepada siapa hal tersebut ditujukkan. Asalkan selama tetap dalam koridor Hak

Asasi Manusia, semua itu sah-sah saja. Dewasa ini, hidup kita selalu diruwetkan dengan berbagai pilihan-pilihan. Baik itu pilihan-pilihan strategis, taktis, umum, sampai yang tidak penting sama sekali. Coba bayangkan, baru saja kita bangun dari tidur kita sudah dihadapkan dengan (minimal) dua pilihan, membuka handphone atau membaca doa (?). Jika kita memilih membuka handphone, akan muncul beragam pilihan lagi, akankah kita membuka Whatsapp, IG, Facebook, Message, dan lain-lainnya. Semisal kita membuka WhatsApp, akan banyak sekali menu chat yang tersedia untuk dibaca. Puluhan chat berstatus hijau bertanda belum terbaca. Dan tentu, aktivitas selanjutnya kita harus memilih, chat mana yang harus kita baca terlebih dahulu?. Dan darisitu akhirnya kita harus memilih, dan saya yakin setiap hal yang kita jatuhkan pilihan atasnya terdapat konsekuensi atasnya. Kembali dalam pillihan, hidup kita berkelana dalam sebuah pilihan-pilihan. Dalam konteks general, sebenarnya kita hanya di hadapkan oleh dua pilihan, pilihan baik atau pilihan buruk. Masing-masing penjabaran dari kedua itu banyak dan panjang sekali, tergantung sikap kita untuk menilai dan memilah mana yang kemudian masuk ke dalam pilihan baik atau pilihan buruk. It’s up to you!

Pilihan, selain terkategorikan dalam perihal aktivitas, kata memilih juga termasuk ke dalam kata kerja. Ada satu hal yang ingin saya kaitkan dengan perihal pilihan (atau memilih) ini, yaitu tentang pandangan, atau lebih tepatnya, sudut pandang. Dalam sebuah acara pacuan kuda, setiap kuda-kuda pelari yang siap dilombakan dalam pacuan tersebut dipakaikan kacamata. Konon kabarnya, ketika seekor kuda dipakaikan kacamata tersebut, fokus berlarinya akan linier, titik fokus ke depannya begitu runcing, dan tidak akan tergubris oleh pemandangan kanan dan kirinya.

Ada sebuah kisah menarik yang saya kutip dalam salah satu karya ustaz Salim. A Fillah. Kisah ini dapat menjadi sebuah tes ramalan tentang bagaimana kita memandang sebuah keadaan atau kondisi, baik diri sendiri, maupun kondisi orang lain.

Suatu sore mungkin kita menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali. Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih yang leherannya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, “Pecel Lele, Mas!”

 “Berapa?”, tanya Mas penjual yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedkit lebih keras.

“Satu. Dibungkus…” Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

“Nggak makan sini aja Mas? Takut keburu hujan ya?”

“Hi hi, buat isteri..”

“Oo..”

Selesai pesanannya di bungkus, bersamaan dengan bunyi keririk yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tetapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. Khawatir pecel lele untuk isteri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecisnya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele.

“Huff, lumayan aman sekarang.”

Tetapi 3 kilometer bukanlah jarak yang dekat untuk berjalan ditengah hujan, bukan?

Bagaimana perasaan kita ketika memandang peristiwa lelaki tersebut? Kasihan, iba, miris, sedih.

“Itukan Anda!” tegas ustaz Salim menjawab.

“Coba tanyakan kepada lelaki itu, kalau anda bertemu.

Oh sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat isteri tercinta.

Begitulah, Allah mengajarkan kita juga para tamu hadirin undangan walimah kita mendoakan kita agar senantiasa keberkahan mengalir dalam diri kita baik keadaan senang maupun susah, jadi jangan gampang jump to conclusion kalau lihat orang lagi susah, bisa jadi mereka malah menikmati itu, sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya, tetapi Allah turunkan sakinah itu kepada mereka.

Begitulah, dalam menggapai keberkahan dalam menikah perlu ilmu, mulai dari proses memilih calon sampai ketika selesai akad dan walimah, semuanya diikhtiarkan dalam bingkai keberkahan. Sama juga dengan ramadan, dalam meraih keberkahan ramadan perlunya ilmu, oleh karena itu wajib sekali mengikut kajian2 di saat ramadan, bagi saya ramadan itu titik balik kehidupan.

Urgensi dalam Menimba Ilmu

Urgensi dalam menimba ilmu baik dalam ilmu agama maupun ilmu dunia, tentu kita akan besarkan porsinya di agama, karena tidak ahsan sekali kalau di tawazunkan 50:50, kecuali kita punya definisi tawazun yang lain. Tetapi ilmu-ilmu konvensional saat ini juga penting, bahkan dapat digunakan untuk menolong agama kita, misal ilmu Hukum Tata Negara, itu berguna sekali, dalam rangka membenahi administrasi negara sekarang-sekarang ini, coba kalau kita tidak faham pasal dan undang undang?. Kita tahu Indonesia bukan negara Islam, makannya dasarnya pascasila dan UUD, tetapi kalau kita tengok sejarah maka isi pancasila adalah infiltrasi nilai-nilai Islam, kira-kira begitu.

Ada sebuah ayat yang menganjurkan kita untuk Menghadapi musuh dengan potensi dan kompetensi yang kita miliki “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (QS. Al Anfaal : 60). Kemudian ayat untuk Memperdalam Kompetensi

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang ad-din” (QS At Taubah:122).

Kemudian Mempertajam Intelektualitas

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Majah).

Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga.” (HR. Muslim).

Tidak ada usaha seseorang yang lebih utama dibanding usaha mencari ilmu … Din-nya tidak akan tegak sampai akalnya tegak.” (HR Thabrani)

Dari ayat-ayat di atas sudah jelas bahwasanya Allah akan meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat, kita bisa saksikan juga. Di zaman sahabat, tidak semua sahabat ikut berperang, melainkan ada juga yang menghafal Al Quran. Nah, ilmu itu sangat erat kaitannya dengan Islam. Agama Islam ini agama yang kental dengan ilmu pengetahuan kita diminta faham, agar tidak taklid, ashobiyah (fanatik). Oleh karena itu alam arkanul baiah, urutan pertamanya yaitu Al Fahmu (Pemahaman), dan pemahaman ini butuh ilmu.

Pemahaman (ilmu), akan melahirkan keikhlasan dalam beramal, kemudian akan melahirkan kesungguhan dalam beramal. Ada orang yang benar-benar besungguh-sungguh dalam berdakwah dan parahnya dia mau berkorban banyak harta, jiwa, raga, waktu tenaga pikiran semuanya, itu sudah sampai tahapan At Tadhiyah (Pengorbanan). Jika ada problem mereka teguh dan totalitas dalam amanahnya, itu semua berawal dari nomor 1 yaitu Al Fahmu

Ilmu itu tidak bisa didapatkan dari tubuh yang santai. Jadi harus bermujahadah (bersungguh-sungguh). Para Imam-imam terdahulu mencari ilmu itu ekstrim sampai ke negeri seberang

Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang” (Thariq bin Ziyad)

Seperti qoute di atas, oleh karena itu, sebagai pemuda muslim, kita berikhtiar untuk menjadi pemuda yang berilmu, ilmu apapun, selama itu baik dan mendekatkan kita kepada Allah dengan demikian, maka kita akan menjadi pemuda muslim yang tangguh, disegani, dan tidak mudah dibohongi. Kalau bahasa saya muda dan berbahaya.

Ada sebuah esensi sajak yang terangkum dalam kitab Diwan Asy Syafii, yang selalu diingat para santri, sampai ke darah-darah mereka. Terjemahan bebas puisi  ini, dikutip dari alumnus Gontor Ahmad Fuadi dari novel monumentalnya, Negeri Lima Menara:

Merantaulah

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah

Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu  tak ubahnya seperti kayu biasa Jika didalam hutan

📚 Sesi Pertanyaan 📚

👤 Qurrota A’yun

    1. Bagaimana menjaga ritme ibadah di bulan ramadan, yang biasanya awal bulan semangat

         lalu di pertengahan sampai akhir malah jadi lesu?

    2. Bagaimana menyikapi target ibadah ramadan, agar tetap semangat dilakukan, tapi tidak

        menjadikan diri seperti “hanya menggugurkan kewajiban”?

   3.  Apa indikator yang menjadikan seseorang merasakan Ramadan tahun ini sudah lebih baik

        sebelumnya?

📝 Jawaban

1. kalau saya pribadi, cara menjaganya dengan mengingat-ingat motivasi lailatul qadr, malam istimewa yang ada di 10 hari terakhir. Sehingga dengannya kita akan semakin mengencangkan ikat pinggang.

2. Menurut saya, mungkin kita harus senantiasa berfikir, bahwa bulan Ramadan ini bulan yang mulia, dan hanya ada setahun sekali. ini ialah bulan yang kita tunggu-tunggu kehadirannya, dan bersyahdu di dalamnya. Kita juga bisa mengingat ganjaran pahala yang Allah berikan atas ibadah-ibadah kita, jauh berkali-kali lipat dibanding bulan sebelumnya.

3. Menurut saya, bisa dilihat di pasca ramadan, apakah setelah ramadan selesai ia menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa mengistiqomahkan (minimal) ibadah-ibadah hariannya sewaktu ramadan. Ramadan itu bulan training, pertandingannya di sebelas bulan setelahnya, dan kemudian training lagi, kemudian pertandingan lagi, begitu seterusnya.

👤 Muhammad Afif (Bekasi)

Maaf kak saya mau bertanya, seorang remaja memiliki kelabilan dalam berfikir, sehingga suatu larangan yang masuk dalam fikiran dia, mengasumsi, rasa ingin tahu yang banyak akan hal itu, bagaimana menurut kakak, untuk mengubah persepsi tersebut, agar rasa ingin tahu kita dalam agama lebih besar dari pada sesuatu yg dilarang oleh agama?

📝 Jawaban

Ia betul sekali, saya rasa kami juga pasti mengalami fase labil seperti itu. Jika SMP SMA fase-fase labil. Kalau sudah lulus kuliah ada lagi fase labil next levelnya yaitu quarter life crisis, nanti ada lagi di umur 40 thn, dst.

Begitulah siklus hidup, pasti ada fase.

Nah fase di remaja ini yang perlu dikokohkan, kalau dia sudah kokoh di remaja in syaa Allah bisa lebih tangguh dalam menjalankan masa dewasanya (in syaa Allah). Yang paling penting dalam fase ini yaitu memiliki lingkungan, teman, serta mentor yang mendukung. Ini penting, sungguh. Saya merasakannya. Usia-usia sekian adalah fase mudah terpengaruh orang lain, sehingga yang harus mempengaruhi mereka yaitu lingkungan yang baik, teman yang sholeh, mentor yang membina.

Saran saya jika di sekolah ada ekstrakulikuler Rohani Islam, bisa ikut dan bergabung. Atau kalau tidak ada bisa bergabung dengan remaja masjid, misalnya @mujahidarmada ini

👤 Karela Dewanti (Magetan, Jawa timur)
Saya mau bertanya kak , di zaman seperti sekarang tentang pergaulan anak muda yang terlalu bebas, dengan syariatnya , dan bahkan sudah melampaui batas. Sebagai anak muda yang tahu kita harus mengingatkan mereka , nah pertanyaannya di sini
Bagaimana cara kita merangkul mereka untuk kembali ke jalan yang benar ? Bagaimana kita melakukan dakwah yang bisa diterima dikalangan mereka?
Jazakallah khairan kak 😇

📝 Jawaban
Wah pertanyaan ketiga ini strategi dakwah yah hehe
Setiap zaman itu punya karakteristiknya, strategi yang dipakai 5 tahun lalu mungkin tidak sesuai dengan kondisi sekarang, terlebih dengan adanya label generasi X dan Z, yang keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, menjawab pertanyaan ini cukup sulit, karena teman-teman sendiri yang tahu kondisi lapangannya.
Tetapi jika ingin belajar kepada Rasulullah ﷺ , maka kuncinya yaitu 4 sifat yang dimiliki Rasulullah ﷺ.
Ini juga bisa dimiliki oleh kita, sebagai umat beliau.
Yaitu (Sidiq, Fathanah, Amanah, Tablgh)
Kita menjadi orang yang jujur, cerdas, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan, ini kuncinya. Terlepas bagaimanapun medan dakwahnya nanti, jika kita telah berikhtiar menjadi pribadi seperti ini (menjadikan diri kita ketauladanan), maka On Syaa Allah orang-orang akan Allah bantu gerakan hatinya untuk mengikut kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp WhatsApp Us :)