Baca Buku: Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif

Halo pembaca setia blog ini. Apa kabarnya nih?

Yup saya mengawali tahun baru ini dengan menulis satu postingan blog, yang memang sudah lama saya tak menulis kembali di sini. Ya awal tahun baru masehi ini, saya jadikan momentum untuk kembali produktif menulis.

Semalam saya dipinjamkan buku milik Akh Azhar berjudul “Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif” yang ditulis oleh Ustadz Adi Hidayat. Sudah lama memang saya “Penasaran” ingin membaca buku ini dikarenakan peristiwa yang dialami oleh Ustadz Adi Hidayat. MasyaAllah, beliau jawab dan tuangkan dalam sebuah buku ini. Ini merupakan hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, juga bagian dari prioritas dakwah.

Tidak ada yang bebas dari celaan, termasuk tahdzir yang kadang getir. Bila Allah saja dicela hamba yang ingkar, malaikat dinista pelaku makar, bahkan Rasul ditahdzir golongan kafir, maka bagaimana dengan kita yang tentunya bukan Allah, malaikat, ataupun Rasul? Hanya yang kurang sehat bila berharap ujian diangkat.

 

Buku Manhaj Tahdzir Kelas Eksekutif – Ustadz Adi Hidayat

Saya tidak membahas banyak tentang buku ini pada tulisan kali ini. Saya ingin menyampaikan pesan-pesan yang saya dapat dalam buku ini.

  1. Pentingnya tabayyun sebelum membuat suatu kesimpulan dan tulisan.
  2. Menjalin dialog dengan cara yang santun.
  3. Pentingnya membangun ukhuwah sesama muslim.
  4. Pentingnya mengontrol lisan.
  5. Pentingnya merujuk pada sumber yang jelas (jangan bias, misal jangan pada cuplikan video singkat di youtube, usahakan menonton secara full).
  6. Pentingnya memperbanyak referensi/sumber.
  7. Berhati-hati ketika menilai suatu hal di luar kompetensi.
    Menjaga adab dalam mencari dan menerapkan pengetahuan.
  8. Lebih selektif dalam memilih guru. Bila hal yang dipelajari hanya mampu menjadikan Anda pandai mencela, paling jumawa, maka Anda tengah menjauh dari tuntunan Al-Quran dan Sunnah.

Seorang yang terlampau sibuk mengajar terkadang menjadi sulit untuk belajar. Demikian di antara ungkapan bijak yang patut disimak, terlebih bagi pengajar yang terkadang lupa mengamalkan hal yang diajarkan.

Buku ini mengajak kita untuk saling berbenah diri, melihat lebih tajam pada cermin aib pribadi. Bila tak mampu berlomba meningkatkan dzikir setidaknya ada usaha untuk tidak saling tahdzir. Sungguh angan yang melangit seringkali membuat kita turun ke bumi.

Mungkin itu saja yang bisa saya tuliskan. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Terima kasih.

 

Penulis : Mahisa Ajy Kusuma

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *