Aku Rindu Masa Itu

Ini adalah tulisan kesaksian dari Generasi awal2 ARMADA. Tentang awal mula menemukan jatidiri dalam jalan dakwah.

Aku Rindu Masa Itu

oleh Elmo Juanara
Ketua Umum ARMADA Bekasi 2016-2019

Aku rindu masa ketika masjid Daarul Uluum menjadi tempat singgah untuk beristirahatnya anak-anak bocah setelah main diteriknya siang

Aku rindu masa ketika pesantren kilat pertama kali diadakan dan kami hanya bisa duduk dan melahap materi dari para trainer

Aku rindu masa ketika mabit pertama kali dilakukan, dan mas Rendra bercerita banyak tentang ‘Black Hole’, film The Message, dan dzikrul maut

Aku rindu masa ketika olahraga basket menjadi kebutuhan fisik setiap saat pulang sekolah, bukan sekedar main atau gaya-gayaan

Aku rindu masa ketika buka puasa dimasjid saat ramadhan menjadi pilihan utama bagi para bocah-bocah dan bersuka cita dalam mencuci piring-piring ifthornya

Aku rindu masa dimana malam minggu liqo di masjid Daarul Uluum saat SMP hanya berdua dengan murabi karena yang lain tidak ada yang ingin ikut, dan tentu di temani dengan gelapnya teras masjid dan ruang utama masjid yang dikunci

Aku rindu masa ketika mas Eko sebagai murabiku bercerita banyak hal tentang buku The Secret, kesuksesan Bill Gates, pengusaha Sabana, hingga perjuangan dakwahnya di PNJ

Aku rindu masa ketika materi liqo malam itu seputar entrepreneurship, impian dan masa depan. Yang darisana mindset dan impian ku untuk menjadi pengusaha dan berani menatap dunia semakin menguat

Aku rindu masa saat pertama kali menjadi trainer outbond dan memandu jalannya permainan Blind Eyes, sebagai oleh-oleh ilmu dari dauroh sebelumnya

Aku rindu masa dimana anak-anak pergi ke puncak dengan mobil seadanya untuk melakukan kegiatan dauroh yang mengubah ruhani, bukan sekedar jalan-jalan apalagi foya-foya.

Aku rindu masa ketika seorang pemuda rela memangkas waktu belajar untuk tes SNMPTNnya, demi menyiapkan segala peralatan untuk acara Armada futsal cup

Aku rindu masa dimana nasyid Mujahid Muda pertama kali didengungkan oleh sederetan senior-senior yang mempunyai azzam dakwah yang tinggi

Aku rindu masa dimana menjaga stand zakat adalah sebuah kesenangan, bukan paksaan, apalagi dijalankan dengan malas-malasan

Aku rindu masa ketika kita berkolaborasi bersama remaja masjid Al Jabaar dan IKIP untuk membagikan nasi bungkus di Bantargebang

Aku rindu masa dimana kisah heroik anak-anak Palestin menjadi topik favorit dalam sebuah susunan acara halaqoh, bukan membicarakan batman, apalagi spiderman

Aku rindu masa dimana sirah 60 Karakteristik Sahabat Rasulullah mulai dibuka, dan murabi membacakan salah satunya yang membuat kami semakin bersemangat sepulang ke rumah

Aku rindu masa ketika kita harus berpatungan seadanya untuk membeli sekotak kue kering pada saat hari raya untuk diberikan kepada guru kakashi

Aku rindu masa ketika ada seorang teman yang mati-matian berusaha belajar membaca Al Quran, pada saat ketika membaca Iqro saja masih berantakkan

Aku rindu masa ketika kita melingkar bersama, dimalam hari, bercerita tentang diri kita, keluarga, impian, masa depan, dan umat ini

Aku rindu masa ketika malam hari keliling rumah warga untuk menyerahkan proposal sponsorship acara ramadhan, yang darisana ilmu fundrising pun tertuai

Aku rindu masa dimana kita menghafal surat An-Naba disiang hari sebelum malamnya akan disetorkan ke murabi

Aku rindu masa ketika sarapan nasi uduk menjadi lagu wajib setelah tertunaikannya agenda tarbawi di pagi hari setelah subuh

Aku rindu ..

Aku rindu ..

Aku rindu masa itu ..

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik (Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”

Jakarta, 29 Agustus 2015
*ditulis dalam kesyahduan gerbong 3 kereta Matarmaja express, ditemani iringan musik The Elegance Pachelbel – Serenade, dan dihiasi persawahan hijau sejauh mata memandang

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *